Laman

Senin, 08 April 2013

Cara memakai Handscoon Steril

PEMASANGAN
HANDSCOON STERIL
LOGO STIKES YARSIS








Dosen Pembimbing :
Siti Muflikah
Disusun Oleh :
1. Rany Arfiyanti (150012089)
2. Siti Aisyah (150012092)
D3 Keperawatan 1B


STIKES YAYASAN RSI SURABAYA
Tahun Ajaran 2012 - 2013

KATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kami ucapkan kepada Alloh SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Startegi Komunikasi” dengan sebaik- baiknya. Makalah yang berjudul Strategi Komunikasi ini berisikan penjelasan tentang pengertian Strategi komunikasi,tahapan Komunikasi, dan komponen dalam strategi komunikasi.
            Dalam menyusun makalah ini, kami juga menggunakan beberapa sumber sebagai referensi kami dari buku dan website. Kami sebagai penulis makalah ini menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh karena, itu saran dan kritik dari pembaca kami harapkan agar kamidapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan kami dikemudikan hari.Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.






Surabaya, 06  November  2012






DAFTAR ISI
                                                                                                                     Hal
KATA PENGANTAR ............................................................................................. 2
DAFTAR  ISI ............................................................................................................ 3
BAB I  PENDAHULUAN      
               1.1.  Latar Belakang Masalah ........................................................................ 4
              1.2.  Tujuan ................................................................................................... 4
BAB II  PEMBAHASAN
2.1      Definisi Tindakan .................................................................................. 5
2.2      Tujuan Tindakan ................................................................................... 5
2.3      Indikasi Tindakan ................................................................................. 5
2.4      Kontra Tindakan ................................................................................... 6
2.5      Persiapan Tindakan ............................................................................... 6
2.6      Prosedur  ............................................................................................... 7
2.7      Evaluasi ................................................................................................. 9
BAB III     PENUTUP
3.1   Kesimpulan .......................................................................................... 10
3.2   Saran ...........................................................................................           10

DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang

Lingkungan Rumah Sakit dapat mengandung berbagai dampak negatif yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan manusia terutama pekerjanya. Dalam indonesia 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat. Cara pengendalian dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya di lingkungan kerja dimana cara terbaik adalah dengan menghilangkan bahaya atau penutup sumber bahaya tersebut itu bila mungkin,tetapi sering bahaya tersebut tidak dapat sepenuhnya dan dikendalikan oleh karena itu di butuhkan usaha pencegahannya dengan menggunakan beberapa alat pelindung diri ( Sam’mul; ILO genevo, 1985 ).

Alat pelindung diri perorangan adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan pekerjaannya, yang dimaksud untuk melindungi dirinya dari sumber bahaya tertentu baik yang berasal dari pekerjaan maupun lingkungan  kerja dan berguna dalam usaha untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan cidera atau cacat. (Syukri, 1982). Alat pelindung diri terdiri dari sarung tangan, masker, penutup kepala, gaun pelindung / celemek, dan sepatu pelindung.

Salah satu alat pelindung diri (ADP) yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi antara perawat dengan pasien adalah sarung tangan. Pengunaan APD seperti sarung tangan sangatlah mutlak dilakukan, disamping pengunaan alat-alat medis yang steril dalam setiap pemberian tindakan perawatan. Meskipun terkesan sebagai alat yang sederhana, namun sarung tangan harus dipakai dalam  setiap tindakan medis invasif. Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari kontak dengan darah, semua jenis cairan tubuh, sekret dan selaput lendir. Tahun 1889 sarung tangan diperkenalkan pertama kalinya sebagai salah satu prosedur perlindungan dalam melakukan  tindakan medis. Selain melindungi petugas kesehatan, sarung tangan juga mengurangi penyebaran infeksi pada pasien, (DepKes, 2003).


1.2       Tujuan
Ø  Untuk mengetahui cara memasang handscoon steril
Ø  Melindungi tangan dari kontak darah,semua jenis cairan tubuh,secret, eksreta , selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi.
Ø  Sarung tangan harus selalu dipakai oleh setiap petugas sebalum kontak dengan darah atau semua jenis cairan tubuh, sekret, ekskreta dan benda yang terkontaminasi.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1   Definisi Tindakan
Sarung tangan steril dapat dipasang dengan menggunakan metode terbuka atau metode tertutup. Metode terbuka merupakan metode yang paling sering digunakan di luar ruang operasi, karena untuk metode tertutup perawat perlu mengenakan gaun steril terlebih dahulu. Sarung tangan dikenakan pada banyak prosedur untuk memungkinkan perawat memegang benda-benda steril secara bebas dan mencegah klien yang beresiko menjadi terinfeksi (mis, klien yang memiliki luka terbuka ) oleh mikroorganisme yang berasal dari tangan perawat.
Sarung tanaan steril dikemas dengan manset dan telapak tangan menghadap ke atas ketika kemasan dibuka. Pada kemasan biasanya tertulis ukuran sarung tangan (mis, ukuran 71/2 atau ukuran medium ). Sarung tangan lateks dan vinil dapat digunakan untuk melindungi perawat ketika kontak dengan darah dan cairan tubuh. Sarung tangan lateks lebih fleksibel daripada vinil, berbentuk seperti tangan pemakaiannya, memungkinkan pemakaian bebas bergerak, dan memiliki keistimewaan tambahan yaitu dapat menutup secara otomatis bila ada lubang tusukan yang kecil. Akan tetapi pemberi perawatan dan klien yang memiliki alergi terhadap lateks kini semakin bertambah. Oleh karena itu, sarung tangan nonlateks yang memiliki ciri khas sama harus tersedia. Sarung tangan vinil harus digunakan untuk tugas-tugas yang tidak mementingkan material sarung tangan, tugas yang memerlukan ketelitian minimal, dan tugas yang memiliki resiko minimal terpajan patogen.
2.2  Tujuan tindakan
1)        Mengurangi resiko petugas terkena infeksi bakterial dari klien
2)        Mencegah penularan flora kulit petugas pada klien
3)        Mengurangi kontaminasi tangan petugas dengan mikroorganisme yang dapat berpindah dari klien satu ke klien yang lainnya.

2.3  Indikasi Tindakan
·         Kontak /diperkirakan kontak dengan darah dll.
·         Tindakan yang berhubungan dengan jumlah darah yang banyak seperti tindakan operasi, pertolongan pada persalinan.
·         Sarung tangan tidak digunakan untuk tindakan yang kemungkinan tidak terpajan darah atau cairan tubuh seperti memandikan pasien dengan kulit normal,memberi makan pasien, membantu untuk jalan.

2.4  Kontra Tindakan
ü  Pengertian     : memasang sarung tangan tanpa memperhatikan sterilitas.
ü  Tujuan           : mencegah transmisi kuman dan melindungi individu
ü  Persiapan       :
ü  Alat – alat     :
1.    Sarung tangan tidak steril.
2.    Tempat barang – barang kotor.

2.5  Persiapan Tindakan
1.    Persiapan perawat
·      Sarung tangan yang digunakan harus sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan
·      Kuku dijaga agar selalu pendek
·      Lepas cicin dan perhasan lain
·      Cuci tangan sesuai dengan prosedur

2.    Persiapan Alat
·      Sarung tangan steril
·      Wastafel/air mengalir untuk cuci tangan
·      Handuk bersih
·      Sabun

3.    Persiapan Lingkungan
1)        Bersihkan dan keringkan permukaan datar untuk area steril.
2)        Jaga agar binatang peliharaan tidak masuk ke area ketika area tersebut dipersiapkan untuk prosedur dan pada saat pelaksanaa prosedur steril
3)        Buang semua benda yang kotor kedalam kantong yang kedap air. Periksa kebijakan intitusi tentang cara membuang sampah medis.
4)        Pindahkan semua peralatan dari rumah atau dari tempat lain yang secara tidak sengaja dapat ditemukan oleh orang lain. Peralatan yang baru atau telah digunakan mungkin tajam atau dapat menyebabakan cidera . peralatan yang telah digunakan dapat menularkan infeksi. Periksa kebijakan intitusi tentang cara membersihkan suplai peralatan yang dapat digunakan kembali dan cara membuang peralatan sekali pakai.
5)        Jika perlu ajarkan klien atau anggota keluarga tentang prinsip-prinsip menggunkan area steril. 




4.    Persiapan Pasien
1)    Pasien dan keluarga diberikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukanMembebaskan pakaian pasien bagian atas
2)      Atur posisi pasien dengan kebutuhan (duduk/telentang untuk keadaan umum lemah)
3)      Tanyakan pada pasien apa mau BAK/BAB sebelum dimandikan (jika, ya, maka awali tindakan prosedur menolong BAK/BAB)
4)      Tanyakan apa pasien menggunakan sabun/tidak.
5)    Alat-alat didekatkan ke tempat tidur pasien.



2.6   Procedur Tindakan
Pelaksanaan :
1.      Jelaskan kepada klien tentang apa yang akan anda lakukan,mengapa hal tersebut perlu dilakukan,dan bagaimana klien dapat bekerja sama  selama prosedur.diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan dalam merencanakan perawatan atau terapi selanjutnya.
2.      Observasi  prosedur pengendalian infeksi yang tepat.
3.      Berikan privasi klien.
4.      Buka  kemasan sarung tangan steril.
·      Letakkan kemasan sarung tangan steril pada permukaan yang kering dan bersi. Setiap  kelembapan pada permukaan dapat mengontaminasi sarung tangan.
·      Beberapa sarung tangan memiliki kemasan dalam dan kemasan luar. Bukan  kemasan luar tangan mengontaminasi sarung tangan atau mengontaminasi kemasan dalam.
·      Lepaskan kemasan dalam dari kemasan luar.
·      Buka kemasan bagian dalam seperti dijelaskan dalam langkah ke-4.atau sesuai dengan petunjuk pabrik membuat sarung tangan tersebut.beberapa pabrik memberikan urutan petunjuk untuk membuka tutup kemasan dan dapat juga dengan menarik setrip yang terlipat.apabilah tidak ada setrip untuk membuka kemasan, tarik bagian kemasan sehinggah jari tidak menyentuh permukaan bagian dalam. Permukaan bagian dalam, yang dekat dengan sarung tangan steril, akan tetap steril.


5.      Pasang  sarung tangan pertama di tangan yang dominan .
·      Apabilah sarung dikemas dalam posisi berdampingan .ambil sarung tangan untuk tangan dominan dengan memegang bagian tepi lekukan manset(sisi telapak tangan)dengan ibu jari dan jari telunjuk dari tangan nondominan. Sentuh hanya bagian dalam manset. Tangan  tidak steril. Dengan hanya menyentuh bagian dalam sarung tangan, perawat mencegah mengontaminasi bagian luar sarung tangan. Gunakan  tangan yang berlawanan dengan sarung tangan.
·      Masukkan tangan dominan ke dalam sarung tangan, lalu tarik ke atas sarung tangan tersebut pertahankan agar ibu jari ari tangan yang akan dimasukkan  kedalam sarung tangan. Apabila ibu tetap berada diatas kelopak tangan, kemungkinanan untuk mengontaminasi bagian luar sarung tangan berkurang.
·      Biarkan manset terlipat ke bawah.
6.      pasang sarung tangan kedua di tangan non-dominan
·      Ambil sarung tangan yang lain dengan tangan yang telah terpasang sarung tangan, masukkan jari bersarung tangan ke bawah manset dan pertahankan ibu jari bersarung tangan berada di atas telapak yang bersarung tangan. Ini kan mencegah kontaminasi sarung tangan oleh tangan yang tidak memakai sarung tangan.
·      Pasang dan tarik ke atas sarung tangan kedua dengan hati-hati. Pertahankann ibu jari bersarung tangan berada sejauh mungkin dari telapak tangan yang bersarung tangan. Pada posisi ini, kemungkinan ibu jari yang bersarung tangan menyentuh lengan sehingga terkontaminasi menjadi berkurang.
·      Atur setiap sarung  tangan sehingga sarung tangan pas di tangan, dan selipkan jari ke bawah manset, kemudian  geser manset ke atas (ke arah lengan) secara hati-hati.
7.      lepas dan buang sarung tangan yang telah dipakai.
·      Tidak ada teknik khusus untuk melepaskan sarung tangan steril. Apabilah sarung tangan kotor oleh sekresi tubuh, lepaskan sarung tangan  dengan membalikannya.
8.      dokumentasikan bahwa teknik steril telah digunakan dalam pelaksnaan prosedur.




2.7   Evaluasi Tindakan
1.    Sarung tangan terpakai dengan baik
2.    Tidak terjadi kontaminasi
3.    Sarung tangan sesuai ukuran
4.    Sarung tangan tidak robek
5.    Lingkungan rapih dan bersih

2.8   Catatan Khusus
-

























BAB  III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa dalam pemasangan sarung tangan ( handscoon) yang steril harus dilakukan dengan benar dan baik sesuai dengan prosedur agar tidak terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan seperti terkena infeksi dan cacat. Oleh karena itu dalam penggunaan handscoon sangat diperlukan dalam melakukan tindakan medis. Selain melindungi petugas kesehatan, sarung tangan juga mengurangi penyebaran infeksi pada pasien, (DepKes, 2003).

3.2  Saran
Disarankan untuk para pembaca untuk dapat memahami isi dari makalah yang kami buat. Kami membuat makalah ini dengan penuh kesabaran, ketelitian, ketekunan. Maka, kami mengetahui isi dari makalah ini agar menambah pengetahuan bagi para pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar